Tampilkan postingan dengan label Tugas Keempat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas Keempat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Oktober 2012

Supply Side Policy


Tugas Kelima
26 Oktober 2012

Kebijakan dari Sisi Penawaran

Menurut Wikipedia.com kebijakan adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi pedoman dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak. Istilah ini dapat diterapkan pada pemerintahan, organisasi dan kelompok sektor swasta, serta individu. Kebijakan berbeda dengan peraturan dan hukum. Dalam ilmu ekonomi kita mengenal dua kebijakan untuk mengatasi masalah ekonomi seperti inflasi.

Dua kebijakan untuk mengatasi masalah ekonomi:
1.      Kebijakan Moneter
2.      Kebijakan Fiskal

Kebijakan dari sisi penawaran akan berdampak pada:
1.      Investasi
2.      Kesejahteraan
3.      Pendidikan
4.      Pasar tenaga kerja
5.      Produktivitas/efisiensi
6.      Perkembangan teknologi

Dalam kebijakan fiskal terdapat kebijakan yang pernah dipakai saat ekonomi Amerika Serikat (AS) sedang hancur, yaitu kebijakan dari sisi penawaran (Supply-Side Policy). Kebijakan dari sisi penawaran adalah kebijakan yang diambil oleh pemerintah dengan cara menaikan penawaran agregat. Kebijakan fiskal dapat secara langsung mempengaruhi bukan saja permintaan agregat, namun juga penawaran agregat. Contoh, pemotongan tarif pajak akan memberikan insentif bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi atau investasi barang modal, karena mereka memperoleh pendapatan setelah pajak yang lebih besar yang kemudian dapat dibelanjakan.


Pada awalnya saat terjadi krisis pada AS tahun 70-an, pemerintah AS memakai kebijakan moneter untuk menurunkan laju inflasi. Cara itu gagal dan barulah dipakai kebijakan fiskal. Kebijakan dari sisi penawaran muncul tahun 1970-an, dan semakin populer tahun 80-an dimasa pemerintahan Reagen di Amerika Serikat. Karena pandangan pakar-pakar aliran sisi penawaran langsung dijalankan oleh Reagan, maka pandangan ekonomi mereka juga sering dijuluki Reagonimics. Bagaimanapun, tidak ada definisi yang spesifik dari Reaganomics ini selain kebijaksanaan-kebijaksanaan ekonomi yang dijalankan oleh pemerintah Reagan, terutama tahun 1981-1982. Kebijaksanaan yg dianut oleh Reagan untuk menghadapi inflasi & kelesuan ekonomi pada tahun 80-an sesuai anjuran aliran baru Dikenal dengan sisi penawaran (supply-side economics).

Kebijakan sebelumnya yaitu kebijakan fiskal dan moneter hanya terpaku pada perekonomian dari sisi permintaan. Kebijakan dari sisi penawaran menawarkan pandangan bahwa bukan segi permintaan yang harus diperbaiki melainkan melalui sisi penawaran.

Kebijakan dari sisi penawaran ini berpendapat bahwa lebih baik meningkatkan pendapatan nasional melalui pemanfaat sumber daya daripada mencoba menekan atau meredakan fluktuasi ekonomi. Dalam mengatasi inflasi dan pengangguran, kebijakan dari sisi penawaran menawarkan program baru yaitu penurunan pajak. Alasannya, penurunan pajak akan meningkatkan keinginan untuk berinvestasi. Hal tersebut mendorong peningkatan dalam produksi. Peningkatan tersebut berakibat pada turunnya angka pengangguran. Hal itu juga berdampak pada redanya inflasi.

Tekanan utama kebijakan dari sisi penawaran adalah kebijaksanaan pertumbuhan jangka panjang. Hal itu dilakukan dengan mempromosikan kesempatan kerja penuh dan perubahan teknologi.

Menurut Robert A. Mundel jika terjadi krisis ekonomi lebih baik menggunakan kombinasi kebijakan fiskal dan kebijakan moneter. Kebijakan moneter dalam bentuk kebijakan uang ketat untuk membendung inflasi. Sedangkan kebijakan fiskal menggunakan program pengurangan pajak agar mendorong pertumbuhan ekonomi.

Tujuan dari kebijakan dari sisi penawaran adalah dalam program pemotongan pajak akan menguntungkan semua pihak. Pekerja memeperoleh pendapatan sesudah pajak (income after tax) yg lbh tinggi. Pemerintah juga memperoleh penerimaan total pajak yg juga lebih besar. Jam kerja yg lama berarti output nasional akan meningkat dan perekonomian akan berkembang.

Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa kebijakan ini akan berpengaruh pada pengguna dana sendiri oleh swasta terhadapa peningkatan outpun nasional, memperluas kesempatan kerja, dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Lain halnya jika mendahulukan pungutan pajak untuk kemudian dialokasikan pemerintah dalam berbagai program pembangunan.

Jika melihat dari kurva diatas bisa disimpulkan bahwa dengan memakai kebijakan dari sisi penawaran walaupun tingkat inflasi masih tinggi, tetapi pendapatan negara bertambah. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa dengan kebijakan penurunan pajak maka perusahaan akan dengan mudah membeli bahan baku dan menambah tenaga kerja. Otomatis pendapatan negara akan naik.

Kesimpulannya, kebijakan dari sisi penawaran ini dapat dijadikan alternatif terbaik jika terjadi masalah ekonomi dalam sebuah negara. Hal ini dikarenakan dengan memakai kebijakan ini bisa sekaligus menaikan pendapatan sebuah negara.

Sumber:
http://speunand.blogspot.com/2011/01/aliran-sisi-penawaran.html
http://karimahpatryani.wordpress.com/2011/05/15/kebijakan-fiskal/

Mekanisme Transmisi Tingkat Suku Bunga



Tugas Keempat
25 Oktober 2012

Mekanisme transmisi tingkat suku bunga 1





            Modal merupakan perpindahan dana dari masyarakat, unit bisnis, dan pemerintah ke bank atau lembaga keuangan lainnya. Dalam hal ini, bank menjadi kreditur dalam titik perputaran dana. dana yang telah diterima dari masyarakat akan digunakan untuk menyalurkan kembali kepada masyarakat yang kekurangan dana. Dalam hal ini masyarakat yang kekurangan dana mempunyai alternatif untuk meminjam dana dari bank. Begitupun sebelumnya masyarakat yang kelebihan dana akan menyimpan dana ke bank atau lembaga keuangan lainnya. Masyarakat yang meminjam dana dibebankan bunga sebagai harga dana yang dipinjam. Jadi, tingkat bunga adalah harga dari pinjaman.
                Suku bunga memperngaruhi keputusan seseorang atau rumah tangga untuk meminjam uang di bank. Makin rendah suku bunga, maka semakin tinggi keingnan masyarakat untuk meminjam uang di bank. Seseorang atau rumah tangga akan meminjam uang di bank saat mereka ingin membeli sesuatu dengan memilih untuk menarik kredit atau pinjaman janga panjang. Semua kegiatan itu berujung pada kegiatan konsumsi.
         Pada perusahaan peminjaman ini dimaksudkan untuk memenuhi kegiatan investasi dan konsumsi. Dalam kegiatan investasi perusahaan biasanya membandingkan tingat suku bunga di bank dengan pasar modal. Jika tingkat suku bunga di bank lebih rendah perusahaan akan memilih untuk meminjam uang di bank untuk berinvestasi kembali.. Sedangkan jika tingkat suku bunga di bank lebih tinggi perusahaan akan lebih cenderung menerbitkan obligasi atau saham. Dalam kegiatan konsumsi perusahaan akan menambah pinjaman yang sebelumnya untuk digunakan sebagai biaya. Biaya tersebut sebagian digunakan untuk kegiatan oprasional perusahaan yang akan menghasilkan keuntungan. Sebagian lagi digunakan untuk membayar gaji karyawan. Karyawan tersebut menggunakan gajinya untuk memenuhi kebutuhan mereka.

 Mekanisme transmisi tingkat suku bunga 2




              Suku bunga memperngaruhi tingkat pengambilan hipotek. Pengambilan hipotek bisa dengan mengakumulasi hipotek yang sebelumnya atau dengan mengambil hipotek baru. Mengakumulasi hipotek sebelumnya biasanya dilakukan untuk  pendapatan pribadi untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Selain itu, juga digunakan untuk modal properti yang nanti keuntungannya dipakai untuk konsumsi. Kalau mengambil hipotek baru, biasanya digunakan untuk permintaan New Housing, untuk investasi.  Jika suku bunga lagi tinggi, maka masyarakat akan cenderung lebih menggunakan uangnya untuk ditabung di bank, yang nantinya akan digunakan untuk kegiatan konsumsi juga.

 Mekanisme transmisi tingkat suku bunga3



             Tingkat suku bunga mempengaruhi nilai tukar. Nilai tukar adalah harga suatu mata uang terhadap mata uang lainnya atau nilai dari suatu mata uang terhadap nilai mata uang lainnya (Salvatore 1997:9). Kenaikan nilai tukar mata uang dalam negeri disebut apresiasi atas mata uang asing. Penurunan nilai tukar uang dalam negeri disebut depresiasi atas mata uang asing.
             Saat nilai tukar mengalami apresiasi, harga impor dalam negeri akan menurun sehingga permintaan impor akan mengalami kenaikan. Harga ekspor dalam negeri akan meningkat sehingga permintaan akan ekspor akan menurun.
                  Saat nilai tukar mengalami depresiasi, harga impor dalam negeri akan meningkat sehingga permintaan impor akan menurun. Harga ekspor dalam negeri akan menurun sehingga permintaan ekspor akan meningkat. Kedua hal tersebut akan bertemu di neraca pembayaran.